Minggu, 01 Desember 2013

Sehari ini di kamar ruang semu bersama kamu

Ini dimulai siang tadi, saat aku menyapamu yang sibuk dengan beragam pernik di laboratorium kimiamu.
“Met hari jum’at, sudah cantikkah anda hari ini?” kataku siang tadi.
Maaf, aku tak sempat menunggu balasanmu, bukankah kamu tahu, adzan dhuhur di hari jum’at itu suka memaksa dan memburu? Aku tak bisa santai.
Aku sedang mendengarkan khatib berkhutbah saat kamu menjawab pesanku, yelah!. Dosen syariah UIN (kamu tahu kan “universitas” baruku?) Sunan Ampel itu menjelaskan manfaat sholat sunnah yang 55 rokaat sehari. Entah kenapa aku lupa menceritakannya padamu.
Kita sudah duduk berdua disebuah bangku di sebuah taman di sebuah kota yang entah dimana. Aku dengan suka rela menyampaikan penyesalanku tak buru-buru melihat kotak masukku. Kupikir, pesanmu sudah jemu menunggu.
“Maaf, baru balik dari masjid terus mampir warung.”
“Yuyuy” jawabmu singkat, seperti angkuh. Tapi aku melihatnya sebagai lucu.
“Lagi apa? Tadi ngapain aja?” tanyaku seolah aku tak tahu kamu didepanku.
“Kuliah.” Ah, kupikir kamu sedang sibuk dengan laporan-laporanmu.
“Lha ini?”
“Baru balik.”
“Yuhu, capek’e aku”
“kenapa?”
“Tadi habis angkat-angkat buku, Fiqih Keseharian Gus Mus, tahu kan?”
“Tahu kok.”
Kupikir percakapan kita semacam pesan singkat yang bertarif per karakter, singkat, padat dan absurd. Tapi, ngobrol denganmu entah mengapa tetap lebih menyenangkan ketimbang mengajak pak tukang bangunan bermain tebak-tebakan.
“Heem, lha itu, 5000 buku aku angkati.”
“Semangat ya, aku bisa tidur siang lagi nih.” Senangnya…..
“Ini mau bobo? Uda bar kok, sak pak isine 25.”
“Ya setidure.” Huft, aku hampir putus asa mencari perhatianmu atas kelelahanku.
“Akhhh, mpun maem? Apa puasa?”
“Tadi maem je, Tembalang suasanane enak banget.” Ya, aku tahu itu. Hawa dingin, pohon rindang, es pisang ijo, dan kamu. Pasti.
“Gimana eg? Sejuk apa romantis?” tanyaku meyakinkan.
“ya gitu lah.”
“Pengen kesana.”
“Pengen maem yang banyak.” Tiba-tiba aku merasa terharu, entah. Barangkali karena nafsu makanmu.
“Huuu, beratmu berapa sekarang?”
“Gak tahu, bisaa aja.”
“50an paling, aku 42 jal.”
“Aku pengen pulang.”
“Heem, jare meh pulang?”
“Ternyata sampai akhir Desember aku sibuk terus.”
“Haduh, tahun baru kemana?”
Aku tak sadar. Sama sekali. Mungkin obrolan kita terlalu melenakan. Sampai-sampai kamu tertidur. Nyenyak. Disandaran bangku di sebuah taman, disebuah kota yang entah dimana itu. Aku ingin merengkuh pundakmu, biar penat di kepalamu dapat kusangga dengan bahuku. Sampai siang itu berlalu, dan kamu belum tahu apa saja yang telah berlaku.
“Yee, aku dapat uang buat beli modem.” Sahutku riang, dan karenanya kamu membuka mata.
“Bangun tidur.” Katamu sambil mengusap mata.
“Heem, sholat ashar ndang!”
“Sebentar, aku lagi menikmati suasana kamar. Enak banget.” Loh? Kok sudah dikamar. Ohya, selama kamu tidur, imajinasiku membawa kamu kabur sampai ke tempat tidur.
“Hayah, pie sih enake? Dari tadi kok diiming-imingi terus.”
“Ya gimana kamu menikmati hidupmu disana, bukan karena disini atau tempatnya.”
“”Lha kamu kan tadi bilang suasanane kamare, bukan kamune. Huh.”
“Ya kan aku yang bilang.”
Lalu aku bercerita tentang tubuhku yang wangi karena baru saja mandi. Aku berharap kamu mau mencium wanginya. Tapi kamu tak acuh saja. Malah kamu menanggapi betapa kecewanya aku terhadap modem baruku yang tak mau lari.
Kita duduk berdua dikamar semu. Menunggu sore lingsir digusur waktu. Sambil membicarakan tentang cerita romantis yang lucu. Ya, kita memang suka membaca. Seperti hikayat perkenalan kita. Aku dan kamu dihubungkan oleh sebaris kalimat.
“Baru kali ini aku tahu perayu yang lebih bagus dari kamu.”
Jujur, girangku menendang-nendang mendengar kalimatmu. Ah, seperti kau memujiku saja. Tapi aku tetap tak terima. Aku harus tetap jadi perayu yang terbaik buat kamu.
“Tuhan Maha Baik. Kamu tahu kenapa?”
“Karena Tuhan menciptakan dunia agar kita bisa bertemu dimana saja.”
“Tapi juga memberikan jarak yang tak bisaa buat kita”
“Dan kamu mulai terbisaa dengan jarak yang tak bisaa itu?”
“Iya.”
“Aku ingin jadi perayu terhebatmu, bukan karena aku ingin jadi nomer satu. Aku Cuma takut, kalau-kalau ada perayu hebat yang menggodamu.
Dan perdebatan kita tentang sang perayu diceraikan adzan maghrib petang itu. Kamu pamit mandi dan aku yakin, kamu tak akan mengijinkan aku mengikutimu, apalagi menjadi imammu….. saat mandi. Hehe.
Malam ini aku ada janji, menemui saudara yang dititipi sesuatu oleh masku, sekalian menemui Umi Ina yang kebetulan di Surabaya. Dan kamu pun punya acara, ngopi berasama teman-teman sekelasmu. Setelah itu kita berjanji bertemu lagi di kamar semu.
Pukul sebelas kita bertemu lagi. Duduk berdua diemperan depan rumah kita. Tiba-tiba aku ingin merayumu ketika kamu begitu saja bercerita tentang seorang penyair kondang yang memperkosa mahasiswi. Ah, hasrat merayuku kandas begitu saja. Bukankah penyair itu lebih perayu dari para perayu? Tapi aku tetap nekat, kulontarkan satu rayuan biar aku tahu sikapmu kini terhadap para perayu.
“oh lala.”
“Kok lala sih, Tiya dong.”
“yah.”
“Kan lala jelek, Tiya yang cakep.”
“Wuuu…..”
“Jangan bilang ada penyair amatiran yang ngerayu kamu ya.”
“Emang.”
Nah, suka kan dirayu, meski aku yang merayu, penyair amatiran. Buktinya kamu gak lapor polisi, apalagi merasa terhamili.
“Sepertiga umurmu adalah waktu kamu menerima rayuanku.”
“Hoaeeemmm.” Kamu pura-pura mengantuk karena kamu tak kuat membendung mawar yang mulai bermekaran dihatimu.
“Sok tahu”
“kan aku mengintip hatimu.”
“Lewat mana?”
“Ya lewat situ.”
“Situ mana?”


Aku memandang gambar-gambar cantikmu. Dan gelap menggulung cerita kita. Malam ini. Atau pagi ini?
Sabtu, 30112013 dinihari.

0 komentar:

Posting Komentar