00.02 -
apa saja
No comments
apa saja
No comments
Sehari ini di kamar ruang semu bersama kamu
Ini dimulai
siang tadi, saat aku menyapamu yang sibuk dengan beragam pernik di laboratorium
kimiamu.
“Met hari
jum’at, sudah cantikkah anda hari ini?” kataku siang tadi.
Maaf, aku tak
sempat menunggu balasanmu, bukankah kamu tahu, adzan dhuhur di hari jum’at itu
suka memaksa dan memburu? Aku tak bisa santai.
Aku sedang
mendengarkan khatib berkhutbah saat kamu menjawab pesanku, yelah!. Dosen
syariah UIN (kamu tahu kan “universitas” baruku?) Sunan Ampel itu menjelaskan
manfaat sholat sunnah yang 55 rokaat sehari. Entah kenapa aku lupa
menceritakannya padamu.
Kita sudah
duduk berdua disebuah bangku di sebuah taman di sebuah kota yang entah dimana.
Aku dengan suka rela menyampaikan penyesalanku tak buru-buru melihat kotak
masukku. Kupikir, pesanmu sudah jemu menunggu.
“Maaf, baru
balik dari masjid terus mampir warung.”
“Yuyuy” jawabmu
singkat, seperti angkuh. Tapi aku melihatnya sebagai lucu.
“Lagi apa? Tadi
ngapain aja?” tanyaku seolah aku tak tahu kamu didepanku.
“Kuliah.” Ah,
kupikir kamu sedang sibuk dengan laporan-laporanmu.
“Lha ini?”
“Baru balik.”
“Yuhu, capek’e
aku”
“kenapa?”
“Tadi habis
angkat-angkat buku, Fiqih Keseharian Gus Mus, tahu kan?”
“Tahu kok.”
Kupikir
percakapan kita semacam pesan singkat yang bertarif per karakter, singkat,
padat dan absurd. Tapi, ngobrol denganmu entah mengapa tetap lebih menyenangkan
ketimbang mengajak pak tukang bangunan bermain tebak-tebakan.
“Heem, lha itu,
5000 buku aku angkati.”
“Semangat ya,
aku bisa tidur siang lagi nih.” Senangnya…..
“Ini mau bobo?
Uda bar kok, sak pak isine 25.”
“Ya setidure.”
Huft, aku hampir putus asa mencari perhatianmu atas kelelahanku.
“Akhhh, mpun
maem? Apa puasa?”
“Tadi maem je,
Tembalang suasanane enak banget.” Ya, aku tahu itu. Hawa dingin, pohon rindang,
es pisang ijo, dan kamu. Pasti.
“Gimana eg?
Sejuk apa romantis?” tanyaku meyakinkan.
“ya gitu lah.”
“Pengen
kesana.”
“Pengen maem
yang banyak.” Tiba-tiba aku merasa terharu, entah. Barangkali karena nafsu
makanmu.
“Huuu, beratmu
berapa sekarang?”
“Gak tahu, bisaa
aja.”
“50an paling,
aku 42 jal.”
“Aku pengen
pulang.”
“Heem, jare meh
pulang?”
“Ternyata
sampai akhir Desember aku sibuk terus.”
“Haduh, tahun
baru kemana?”
Aku tak sadar.
Sama sekali. Mungkin obrolan kita terlalu melenakan. Sampai-sampai kamu
tertidur. Nyenyak. Disandaran bangku di sebuah taman, disebuah kota yang entah
dimana itu. Aku ingin merengkuh pundakmu, biar penat di kepalamu dapat kusangga
dengan bahuku. Sampai siang itu berlalu, dan kamu belum tahu apa saja yang
telah berlaku.
“Yee, aku dapat
uang buat beli modem.” Sahutku riang, dan karenanya kamu membuka mata.
“Bangun tidur.”
Katamu sambil mengusap mata.
“Heem, sholat
ashar ndang!”
“Sebentar, aku
lagi menikmati suasana kamar. Enak banget.” Loh? Kok sudah dikamar. Ohya,
selama kamu tidur, imajinasiku membawa kamu kabur sampai ke tempat tidur.
“Hayah, pie sih
enake? Dari tadi kok diiming-imingi terus.”
“Ya gimana kamu
menikmati hidupmu disana, bukan karena disini atau tempatnya.”
“”Lha kamu kan
tadi bilang suasanane kamare, bukan kamune. Huh.”
“Ya kan aku
yang bilang.”
Lalu aku
bercerita tentang tubuhku yang wangi karena baru saja mandi. Aku berharap kamu
mau mencium wanginya. Tapi kamu tak acuh saja. Malah kamu menanggapi betapa
kecewanya aku terhadap modem baruku yang tak mau lari.
Kita duduk
berdua dikamar semu. Menunggu sore lingsir digusur waktu. Sambil membicarakan
tentang cerita romantis yang lucu. Ya, kita memang suka membaca. Seperti
hikayat perkenalan kita. Aku dan kamu dihubungkan oleh sebaris kalimat.
“Baru kali ini
aku tahu perayu yang lebih bagus dari kamu.”
Jujur, girangku
menendang-nendang mendengar kalimatmu. Ah, seperti kau memujiku saja. Tapi aku
tetap tak terima. Aku harus tetap jadi perayu yang terbaik buat kamu.
“Tuhan Maha
Baik. Kamu tahu kenapa?”
“Karena Tuhan
menciptakan dunia agar kita bisa bertemu dimana saja.”
“Tapi juga
memberikan jarak yang tak bisaa buat kita”
“Dan kamu mulai
terbisaa dengan jarak yang tak bisaa itu?”
“Iya.”
“Aku ingin jadi
perayu terhebatmu, bukan karena aku ingin jadi nomer satu. Aku Cuma takut,
kalau-kalau ada perayu hebat yang menggodamu.
Dan perdebatan
kita tentang sang perayu diceraikan adzan maghrib petang itu. Kamu pamit mandi
dan aku yakin, kamu tak akan mengijinkan aku mengikutimu, apalagi menjadi
imammu….. saat mandi. Hehe.
Malam ini aku
ada janji, menemui saudara yang dititipi sesuatu oleh masku, sekalian menemui
Umi Ina yang kebetulan di Surabaya. Dan kamu pun punya acara, ngopi berasama
teman-teman sekelasmu. Setelah itu kita berjanji bertemu lagi di kamar semu.
Pukul sebelas
kita bertemu lagi. Duduk berdua diemperan depan rumah kita. Tiba-tiba aku ingin
merayumu ketika kamu begitu saja bercerita tentang seorang penyair kondang yang
memperkosa mahasiswi. Ah, hasrat merayuku kandas begitu saja. Bukankah penyair
itu lebih perayu dari para perayu? Tapi aku tetap nekat, kulontarkan satu
rayuan biar aku tahu sikapmu kini terhadap para perayu.
“oh lala.”
“Kok lala sih,
Tiya dong.”
“yah.”
“Kan lala
jelek, Tiya yang cakep.”
“Wuuu…..”
“Jangan bilang
ada penyair amatiran yang ngerayu kamu ya.”
“Emang.”
Nah, suka kan
dirayu, meski aku yang merayu, penyair amatiran. Buktinya kamu gak lapor
polisi, apalagi merasa terhamili.
“Sepertiga
umurmu adalah waktu kamu menerima rayuanku.”
“Hoaeeemmm.”
Kamu pura-pura mengantuk karena kamu tak kuat membendung mawar yang mulai
bermekaran dihatimu.
“Sok tahu”
“kan aku
mengintip hatimu.”
“Lewat mana?”
“Ya lewat
situ.”
“Situ mana?”
Aku memandang
gambar-gambar cantikmu. Dan gelap menggulung cerita kita. Malam ini. Atau pagi
ini?
Sabtu,
30112013 dinihari.
0 komentar:
Posting Komentar