23.14 -
No comments
No comments
Merantau
Baru saja menyelesaikan nonton film aksi yang ciamik ini. yah, MERANTAU - WARRIOR. Iko Uwais tampil mempesona di film ini. Sepengetahuanku, inilah film pertama yang dibintangi oleh Iko Uwais.
Tapi tulisanku ini bukan untuk mengomentari film tersebut. Bukan juga mengisahkan alur ceritanya.
Ini tentang merantau.
Rantau pada dasarnya merupakan perjalanan berlayar ke tanah seberang untuk mencari penghidupan. Setidaknya, begitulah menurut kamus bahasa indonesia. Kini, rantau menjadi lebih luas. Tidak hanya perjalanan dengan berlayar. Rantau bisa dengan naik bus, motor, pesawat, bahkan "nggandol" truk.
Aku juga anak perantauan. Darahku menetes di Magelang. tapi keringatku bercucuran di Surabaya. begitulah satu setengah tahun ini. Tapi perjalananku tanpa harus berlayar, karena memang satu daratan. Tidak juga dengan pesawat, apalagi nggandol truk. Cukup naik motor.
Kembali ke merantau.
Surabaya bukanlah tanah perantauanku yang pertama. Dalam drama kehidupanku, ada beberapa kota yang sebelumnya pernah kusinggahi. Pati dan Rembang. Jika di kedua kota itu aku merantau untuk belajar (bersenang-senang), maka, di Surabaya inilah tempatku banting tulang.
Sebenarnya tidak ada kebutuhan khusus. Jika dipaksa irit, sangu dari rumah masih boleh dikata cukup. Tapi lain soal. Kata orang, Hidup itu sekedar cari makan. Tapi tidak sesederhana cari uang. Makan itu kebutuhan hidup. Uang beda. Sekalipun banyak hal bisa dibayar dengan uang, itu tak membuktikan uang adalah segalanya.
Tanpa uang, dengan ilmu kita bisa makan. Contoh mudahnya.
Sore tadi ada kawan hajatan. Kebetulan seseorang yang aku kenal baru saja bercerita bahwa kantongnya saat ini sedang kempes-kempesnya. Maklum, tanggal tua. Ndilalah kok orang yang tak punya uang itu pinter tahlilan. Jadilah pada acara syukuran itu, sebut saja pak madun, dapat rejeki min hatsu laa yahtasib.
Nah, Perjalanan rantauku ini tidak sepenuhnya demi rupiah (syukur dapatnya dollar). Betul itu. Disini setidaknya aku belajar banyak hal. Ilmu Sosiologi dikampus. Ilmu Percetakan dan Penerbitan buku ditempat kerja. Ilmu Pertukangan di gudang. Ilmu dan lain-lainnya. Semua bermanfaat. Semua bisa menepiskan perut dari lapar.
Ya begitulah. Memang cinta tetap berlabuh pada kampung halaman. Tapi bukankah hidup adalah perjalanan.
Tapi tulisanku ini bukan untuk mengomentari film tersebut. Bukan juga mengisahkan alur ceritanya.
Ini tentang merantau.
Rantau pada dasarnya merupakan perjalanan berlayar ke tanah seberang untuk mencari penghidupan. Setidaknya, begitulah menurut kamus bahasa indonesia. Kini, rantau menjadi lebih luas. Tidak hanya perjalanan dengan berlayar. Rantau bisa dengan naik bus, motor, pesawat, bahkan "nggandol" truk.
Aku juga anak perantauan. Darahku menetes di Magelang. tapi keringatku bercucuran di Surabaya. begitulah satu setengah tahun ini. Tapi perjalananku tanpa harus berlayar, karena memang satu daratan. Tidak juga dengan pesawat, apalagi nggandol truk. Cukup naik motor.
Kembali ke merantau.
Surabaya bukanlah tanah perantauanku yang pertama. Dalam drama kehidupanku, ada beberapa kota yang sebelumnya pernah kusinggahi. Pati dan Rembang. Jika di kedua kota itu aku merantau untuk belajar (bersenang-senang), maka, di Surabaya inilah tempatku banting tulang.
Sebenarnya tidak ada kebutuhan khusus. Jika dipaksa irit, sangu dari rumah masih boleh dikata cukup. Tapi lain soal. Kata orang, Hidup itu sekedar cari makan. Tapi tidak sesederhana cari uang. Makan itu kebutuhan hidup. Uang beda. Sekalipun banyak hal bisa dibayar dengan uang, itu tak membuktikan uang adalah segalanya.
Tanpa uang, dengan ilmu kita bisa makan. Contoh mudahnya.
Sore tadi ada kawan hajatan. Kebetulan seseorang yang aku kenal baru saja bercerita bahwa kantongnya saat ini sedang kempes-kempesnya. Maklum, tanggal tua. Ndilalah kok orang yang tak punya uang itu pinter tahlilan. Jadilah pada acara syukuran itu, sebut saja pak madun, dapat rejeki min hatsu laa yahtasib.
Nah, Perjalanan rantauku ini tidak sepenuhnya demi rupiah (syukur dapatnya dollar). Betul itu. Disini setidaknya aku belajar banyak hal. Ilmu Sosiologi dikampus. Ilmu Percetakan dan Penerbitan buku ditempat kerja. Ilmu Pertukangan di gudang. Ilmu dan lain-lainnya. Semua bermanfaat. Semua bisa menepiskan perut dari lapar.
Ya begitulah. Memang cinta tetap berlabuh pada kampung halaman. Tapi bukankah hidup adalah perjalanan.
0 komentar:
Posting Komentar