Senin, 30 Desember 2013

Ketika kaum ALIT menjadi ELIT

Banyak yang mengartikan lakon Petruk Dadi ratu
sebagai sebuah simbol ketidak becusan seorang
pemimpin, atau seorang yang tidak layak menjadi
pemimpin dijadikan pemimpin wal hasil adalah
kekacauan. Bisa juga di artikan sebagai khayalan
yang berlebih, lha masak Petruk pengen jadi
pemimpin ?, jongos mau jadi Raja.
Meski sebenaranya hal itu tidaklah tepat, karena
pada dasarnya Petruk adalah bukan manusia
biasa, Petruk merupakan cerminan dari salah satu
pribadi Semar. Kesaktian Petruk melebihi kesaktian
para Dewa dan Penguasa mayapada Baca
Tentang Siapa Petruk. Lantas apa yang mendasari
kemudian keluarnya lakon Petruk Dadi ratu ?,
jawabannya adalah kekacauan dan
ketidakseimbangan.
Segalanya berjalan sudah tidak pada fitrahnya,
sudah tidak pada tempatnya. Dimana Pebisnis
menjadi pejabat, dimana pemuka agama menjadi
wakil rakyat, dimana pelawak menjadi wakil
rakyat. Apa yang terjadi jika kuda makan sambal,
bahkan doyan sambal ? yang terjadi adalah
keliaran, sang kuda ngamuk. Apa yang terjadi jika
kambing suka makan daging ? yang terjadi adalah
kambing menjadi buas. Apa yang terjadi ketika
harimau memakan rumput ? yang terjadi adalah
harimau menjadi pengecut.
Dalam dunia pewayangan, saat gonjang-ganjing
sudah sampai pada taraf yang sangat tidak wajar,
para punakawan—Semar, Gareng, Petruk, dan
Bagong—mulai membangkang. Puncak
pembangkangan terjadi ketika Petruk melabrak
Kahyangan Jonggring Saloko (istana para
penguasa), mengobrak-abrik dan
mendekonstruksi tatanan yang selama ini dipakai
para penguasa serta para elite untuk berselingkuh
dan melakukan manipulasi.
Arjuna, sang sang pimpinan yang biasanya
dilayani punakawan, dipaksa mematuhi titah
Petruk, sang raja baru. Saat itulah Petruk
membuka seluruh aib para penguasa. Yang perlu
disingkapi dalam lakon ini adalah bukan khayalan
seperti versi umum, melainkan adalah Petruk
sebagai pemimpin Revolusi yang menjungkir
balikan tatanan khayangan yang pada saat itu
memang sudah sangat kacau. Petruk merevolusi
semua tatanan agar kembali pada tempat yang
semestinya.
Dan itu hanya dilakukan oleh Petruk dalam 1
malam, hal ini menyiratkan bahwa Petruk adalah
pribadi yang sadar akan peranannya, setelah
semua baik, semua berjalan normal, maka Petruk
kembali kepada peranan awalnya menjadi
seorang pengabdi.
Episode Petruk Dadi Ratu Ini ditutup dengan
turunnya Semar mengatasi kondisi :
………Petruk tersenyum mengingat peristiwa itu.
“Ah… hanya Hyang Widi yang perlu tahu apa isi
hatiku, selain Dia aku tak perduli”
Kembali dia mengayunkan “pecok”nya membelah
kayu bakar. Sambil bersenandung tembang
pangkur:
“Mingkar-mingkuring angkoro, akarono karanan
mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinubo
sinukarto….”
Berikut Ringkasan Kisah Petruk Dadi ratu.
Sebagai salah satu punakawan resmi mayapada.
Petruk sudah mengabdi kepada
puluhan”ndoro” (tuan), sejak jaman Wisnu
pertama kali menitis ke dunia. Hingga saat Wisnu
menitis sebagai Arjuna Sasrabahu, menitis lagi
sebagai Rama Wijaya, menitis lagi sebagai Sri
Kresna. Petruk tetap di sini sebagai seorang
pengabdi, karena itu adalah peranan agungnya.
Petruk hanya bisa tersenyum kadang tertawa geli,
dan sesekali melancarkan protes akan kelakuan
“ndoro-ndoro” (tuan-tuan)-nya yang sering kali
tak bisa diterima nalar. Tapi ya memang hanya itu
peran Petruk di mayapada ini. Dia tidak punya
wewenang lebih dari itu. Meskipun sebenarnya
kesaktian Petruk tidak akan mampu ditandingi oleh
tuannya yang manapun juga.
Berbeda dengan Gareng yang meledak-ledak
dalam menanggapi kegilaan mayapada, berbeda
pula dengan Bagong yang sok cuek dan selalu
mengabaikan tatakrama. Petruk berusaha lebih
realistis dalam menyikapi segala sesuatu yang
terjadi. Meskipun nyeri dadanya acapkali muncul
saat melihat kejadian-kejadian hasil rekayasa
ndoro-ndoro nya.
Petruk sudah hafal betul dengan model paham
kekuasaan di Karang Kedempel dari waktu ke
waktu. Kalau mau, sebenarnya bisa saja Petruk
mengamuk dan menghajar siapa saja yang
dianggap bertanggung jawab atas kesemrawutan
pemerintahan. Dengan kesaktiannya, apa yang tak
bisa dilakukan Petruk, bahkan (dulu) pernah
terjadi, Sri Kresna hampir saja musnah menjadi
debu dihajar anak Kyai Semar ini.
Tapi Petruk sudah memutuskan untuk mengambil
posisi sebagai punakawan yang resmi. Dia sudah
bertekad tidak lagi mengambil tindakan konyol
seperti yang dulu sering dia lakukan. Baginya,
kemuliaan seseorang tidak terletak pada status
sosial. Pengabdian tidak harus dengan menempati
posisi tertentu. Melinkan pada pengabdiannya
terhadap nusa dan bangsa.
Singkat cerita Petruk menjelma menjadi Prabu
Kanthong Bolong, Petruk melabrak semua tatanan
yang sudah terlanjur menjadi “main stream”
model kekuasaan di mayapada. Dia
menjungkirbalikkan anggapan umum, bahwa
penguasa boleh bertindak semaunya, bahwa raja
punya hak penuh untuk berlaku adil atapun tidak.
Karuan saja, Ulah Prabu Kanthong Bolong
membuat resah raja-raja lain. Bahkan, kahyangan
Junggring Saloka pun ikut-ikutan gelisah. Kawah
Candradimuka mendidih perlambang adanya
“ontran-ontran” yang membahayakan kekuasaan
para dewa.
Maka secara aklamasi disepakati, skenario
“mengeliminir” raja biang keresahan. Persekutuan
raja dan dewa dibentuk, guna melenyapkan suara
sumbang yang mengganggu tatanan keyamanan
yang sudah terbentuk selama ini.
Hasilnya?, semua usaha untuk melenyapkan suara
sumbang itu gagal total.Bukannya Prabu
Kanthong Bolong yang mati. Tapi raja jadi-jadian
Petruk ini malah mengamuk. Siapapun yang
mendekat dihajarnya habis-habisan. Kresna dan
Baladewa dibuat babak belur. Batara Guru sang
penguasa kahyangan lari terbirit-birit.
Kesaktian dan semua ajian milik dewa-dewa dan
raja-raja, seperti tak ada artinya menghadapi
Prabu Kanthong Bolong. Tahta Jungring Saloka
pun dikuasai raja murka ini.
Keadaan semakin semrawut. Sampai akhirnya
Semar Bodronoyo turun tangan mengendalikan
situasi.
“Ngger, Petruk anakku!”, Semar berujar pelan,
suaranya serak dan berat seperti biasanya.
“Jangan kau kira aku tidak mengenalimu, ngger!”
“Apa yang sudah kau lakukan, thole? Apa yang
kau inginkan? Apakah kamu merasa hina menjadi
kawulo alit? Apakah kamu merasa lebih mulia bila
menjadi raja? “
“Sadarlah ngger, jadilah dirimu sendiri“.
Prabu Kanthong Bolong yang gagah dan tampan,
berubah seketika menjadi Petruk. Berlutut
dihadapan Semar. Dan Episode “Petruk Dadi Ratu”
pun berakhir.
Petruk tersenyum mengingat peristiwa itu. “Ah…
hanya Hyang Widi yang perlu tahu apa isi hatiku,
selain Dia aku tak perduli”
Kembali dia mengayunkan “pecok”nya membelah
kayu bakar. Sambil bersenandung tembang
pangkur:
“Mingkar-mingkuring angkoro, akarono karanan
mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinubo
sinukarto….”
Hahahaha dan Petruk pun tertawa kembali
melakoni perannya sebagai Punakawan Resmi
mayapada ini.


17 April 2012 pukul 3:58

Dari berbagai sumber

0 komentar:

Posting Komentar