Minggu, 06 Januari 2013

Pelaku Terror = Korban?

Lagi-lagi Indonesia dikejutkan dengan berita penggerebekan terduga kasus terrorisme di Solo serta meledaknya sebuah bom di rumah Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara di  Depok Jabar.

Kasus semacam ini seakan-akan menjadi moment tahunan di Indonesia. Dan lagi-lagi terduga pelaku terror tersebut merupakan kaum muslim jebolan Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki,Solo.

Beberapa kasus terorisme yang terjadi di Indonesia memiliki kesamaan-kesamaan yang entah merupakan kebetulan belaka atau memang merupakan rekayasa pihak tertentu. Terdapat suatu kejanggalan bila kita menengok kasus-kasus terorisme yang pernah terjadi di Indonesia.

Diantaranya kasus ledakan bom yang terjadi di hotel JW Mariott dan Ritz Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan dan juga bom bali. Para pelaku mengatasnamakan jihad islam sebagai alasan yang mendasari mereka melakukan aksi terorisme. Demikian juga terduga pelaku terror yang tertangkap baru-baru ini,Farhan dan Muhsin. Keduanya mengaku pernah menimba ilmu di PP. Al Mukmin Ngruki,sama seperti para pelaku terror sebelumnya.

Menurut pernyataan Mantan Komandan Satgas Intel Badan Intelijen Strategis, (BAIS),  Laksamana TNI purnawirawan Mulyo Wibisono yang mengatakan, "Teroris itu sengaja dipelihara institusi tertentu yang mempunyai kemampuan intelijen. Institusi ini mendapatkan keuntungan dengan adanya teroris karena mendapatkan kucuran dana dari AS".

Dengan itu,seakan-akan para terduga pelaku terror tersebut dimanfaatkan oleh badan institusi tertentu yang mengharapkan keuntungan dari adanya kasus terorisme semacam ini.

Badan-badan intelejen yang mengurus kasus semacam ini mendapatkan penambahan dana operasional sebagai upaya meningkatkan kinerja mereka. Barangkali,semakin banyak bermunculan kasus terorisme,semakin sering pula mereka mendapatkan dana bantuan.

Bahkan,ada juga badan intelejen yang seperti selebritis. Sebelum mereka beraksi,berbagai pihak dari media sudah siaga di lokasi untuk meliput aksi heroic mereka. Semacam kebanggan mungkin bagi mereka ketika dengan gagahnya menembakkan ratusan butir peluru dan disiarkan secara live,sehingga 200 juta warga Indonesia bisa menonton aksi mereka yang seharusnya menjadi sebuah rahasia.

Ketika beberapa badan institusi mendapatkan keuntungan baik berupa tambahan dana maupun ketenaran dari adanya kasus-kasus terorisme tersebut. Justru yang dirasakan paling buntung adalah dari pihak terduga pelaku terror. Baik keluarga maupun terduga teroris itu sendiri.

Seandainya saja benar,mereka melakukan aksi terror demi menegakkan syariat islam. Bukankah mereka malah menjatuhkan nama agama yang mereka bela? Tentu saja semakin banyak yang menatap sinis keberadan kaum muslim di Indonesia,yang semakin terkenal sebagai sarang teroris. Apalagi lembaga pendidikan yang tiba-tiba saja menjadi terkenal sebagai tempat mereka belajar agama dan otomatis dianggap mendidik mereka menjadi teroris.

Sebenarnya motif mereka melakukan aksi terror dinilai keliru oleh mayoritas muslim Indonesia sendiri. Sehingga memunculkan kecurigaan yang mengarah pada peng-kambinghitam-an para pelaku terror. Seakan-akan mereka telah dimanfaatkan oleh pihak tertentu. Sungguh hal ini seharusnya menjadi keprihatinan bersama.

Semoga kita menjadi lebih peka menghadapi masalah-masalah sosial yang melanda Indonesia. Sehingga kita bisa toleran,tidak asal menuduh dan menyalahkan pihak lain.

0 komentar:

Posting Komentar