01.19 -
Opini
No comments
Opini
No comments
Islam Pribumi
Sebuah konsep mengenai Islam di nusantara yang digagas oleh KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Dur (alm) adalah Islam Pribumi. Menurutnya, Islam diturunkan untuk membela manusia, bukan untuk membela Tuhan. Sebagaimana diyakini oleh umat Islam bahwa Allah SWT adalah Yang Maha Kuasa. Tentu saja dengan kekuasaan-Nya, Tuhan tidak membutuhkan pembelaan. Sebaliknya, manusia yang diciptakan tanpa bisa luput dari salah dan lupa yang lebih penting untuk dibela. Untuk itu lah Allah SWT mengutus Nabi Muhammad untuk menyampaikan kalam-kalam-Nya. Mengutip pendapat KH. Musthofa Bisri, bahwa Nabi Muhammad dipilih untuk menyampaikan wahyu-Nya karena Muhammad adalah manusia yang paling bisa memanusiakan manusia. Dengan kata lain, Muhammad adalah manusia yang paling manusiawi. Agama yang dibawanya adalah Islam rohmatan lil ‘alamin. Agama keselamatan yang menjamin rohmat bagi seluruh alam tanpa terkecuali.
Islam diperkirakan masuk di nusantara sekitar abad ke-7 M/1 H, dan mulai berkembang secara luas pada abad ke-13 M/6 H. Penyebaran Islam di nusantara –terutama di jawa- tidak bisa lepas dari peran walisongo. Islam yang dibawa para wali ini beraliran tasawuf-sunni, ajaran Islam yang disampaikan melalui kebijaksanaan yang menitik-beratkan pada aspek batiniah Islam. Masyarakat jawa pada masa itu masih sangat dipengaruhi oleh kepercayaan animisme-dinamisme dan pengaruh agama Hindu-Budha yang telah ada sebelum kedatangan Islam. Oleh para wali, terutama Sunan Kalijaga dengan kepiawaiannya dalam berdakwah, mampu mewarnai budaya-budaya masyarakat kala itu. Seperti penggunaan media wayang yang pada mulanya menceritakan kisah Mahabharata dengan pengaruh Hindu-nya, dapat diubah oleh Sunan Kalijaga sehingga dapat menyapaikan pesan-pesan Islam secara tersirat. Bentuknya masih tetap wayang, namun isinya telah berubah. Secara tidak langsung, masyarakat sudah menerima ajaran-ajaran Islam tanpa mereka sadari. Perlahan-lahan mereka mulai tertarik dengan pesan-pesan dalam lakon wayang itu, pada saat itulah Sunan Kalijaga mulai mengenalkan Islam. Islam seperti ini adalah Islam dengan wajah damai. Dapat kita lihat hasilnya sekarang ini, Indonesia menjadi Negara dengan jumlah umat muslim yang terbanyak di dunia.
Berbeda dengan Islam yang baru-baru ini masuk ke Indonesia. Aliran Islam ini oleh Dr. Aksin Wijaya disebut Islam transnasionalis. Islam yang beraliran formalis yang bernuansa Timur Tengah, dan masuk ke Indonesia untuk kemudian dipaksakan pahamnya untuk diterapkan di Indonesia. Diantara Islam transnasionalis ini adalah Wahabi, Ikhwanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir. Ketiganya memiliki pemahaman tentang Islam yang tidak jauh berbeda. Mereka meyakini bahwa ideologi Islam adalah ideologi yang tertutup. Masuknya aliran-aliran ini ke Indonesia membawa misi untuk purifikasi Islam. Islam di Indonesia dianggap telah bercampur dengan budaya, sehingga perlu untuk ”disucikan”, mengembalikan ajaran Islam kepada Al Qur’an dan Hadits. Dengan niatan yang baik itu, sayangnya mereka kerap kali memakai wajah Islam yang keras dalam menyebarkan ideologinya. Kekerasan bukan dalam bentuk fisik, melainkan kekerasan dalam bentuk wacana, seperti pemberian label sesat pada umat Islam yang tidak sepaham dengan mereka. Kaum Islam tradisionalis yang diwakili oleh pesantren dan NU seringkali dinilai telah menyebarkan bid’ah, khurafat dan tahayyul karena mencampur adukkan ajaran Islam dengan budaya lokal.
Menilik kembali sejarah, dimana Islam mulai hadir ditengah kaum jahiliyah arab. Sebelum itu masyarakat disana sudah memiliki budaya untuk beribadah haji yang di wariskan oleh Nabi Ibrahim AS. Kemudian Islam hadir dan menjadikan budaya itu sebagai rukun Islam yang kelima. Sebelum itu pula, masyarakat arab telah terbiasa melakukan puasa. Dengan dasar itulah, kaum Islam tradisionalis mempunyai kaidah “memelihara tradisi lama yang masih baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”. Dari sini kita dapat memahami bahwa Islam adalah agama yang sangat luas dan damai, sehingga mampu mewarnai segala aspek kehidupan. Itulah Islam rohmatan lil ‘alamin.
Kembali kepada konsep Islam pribumi yang ditawarkan oleh Gus Dur, sebagai solusi kehidupan beragama yang lebih harmonis di nusantara ini. Konsep ini menolak penerapan Islam dalam bentuk sistem, seperti Negara Islam, Bank Islam, Politik Islam, Ekonomi Islam dsb,dst. Karena sistem tersebut tidak bisa menjunjung nilai pluralisme di Indonesia dalam prakteknya. Konsep Islam ala Gus Dur ini lebih mementingkan kehidupan yang damai, membela kaum lemah dan kaum yang ter-marjinal-kan. Kehidupan seperti ini dinilai Gus Dur lebih Islami ketimbang penerapan sistem syariat yang hanya mengedepankan formalisasi Islam. Islam pribumi tidak bisa disamakan dengan Islam Jawa atau Islam Kejawen. Islam pribumi memposisikan diri sebagai Islam yang mampu berdialog dengan budaya. Tetapi bukan berarti mencampur adukkan. Sebab apabila di campur antara agama dan budaya, maka unsur dari keduanya tidak lagi utuh dan memunculkan sebuah unsur baru. Dalam bukunya yang berjudul Islamku, Islammu, Islam kita, Gus Dur memberikan gambaran tentang konsep Islam Pribuminya. “Islamku, adalah paham sesuai dengan pengalaman spiritual(ku) yang tidak pernah dialami oleh(mu), dan aku tidak berhak untuk memaksakan islamku ini padamu”. “Islammu, adalah Islam yang kamu pahami sesuai dengan pengalaman spiritual(mu) yang tidak pernah aku alami, dan kamu tidak berhak untuk memaksakan pemahaman islam(mu) kepada(ku)”. Yang terakhir adalah “Islam kita”, inilah yang disebut oleh Gus Dur sebagai Islam pribumi, yaitu “Islam yang mampu berdialog dengan budaya lokal, Islam yang membela manusia, Islam yang bisa diterima oleh aku dan kamu”.
Islam pribumi merupakan perwujudan Islam dengan wajah damai. Untuk mengayomi masyarakat Indonesia, membela hak-hak asasi manusia. Islam yang ditawarkan agar seluruh warga Indonesia bisa merasakan atmosfer kedamaian yang dibawa Islam. Pilihan lainnya adalah Islam berwajah keras, yang menegakkan syariat tapi melupakan sifat rohmat Allah, menekan kebebasan beragama, dan mengusik kedamaian dalam bernegara. Mana yang akan anda pilih?
Wallahu a’lam
Islam diperkirakan masuk di nusantara sekitar abad ke-7 M/1 H, dan mulai berkembang secara luas pada abad ke-13 M/6 H. Penyebaran Islam di nusantara –terutama di jawa- tidak bisa lepas dari peran walisongo. Islam yang dibawa para wali ini beraliran tasawuf-sunni, ajaran Islam yang disampaikan melalui kebijaksanaan yang menitik-beratkan pada aspek batiniah Islam. Masyarakat jawa pada masa itu masih sangat dipengaruhi oleh kepercayaan animisme-dinamisme dan pengaruh agama Hindu-Budha yang telah ada sebelum kedatangan Islam. Oleh para wali, terutama Sunan Kalijaga dengan kepiawaiannya dalam berdakwah, mampu mewarnai budaya-budaya masyarakat kala itu. Seperti penggunaan media wayang yang pada mulanya menceritakan kisah Mahabharata dengan pengaruh Hindu-nya, dapat diubah oleh Sunan Kalijaga sehingga dapat menyapaikan pesan-pesan Islam secara tersirat. Bentuknya masih tetap wayang, namun isinya telah berubah. Secara tidak langsung, masyarakat sudah menerima ajaran-ajaran Islam tanpa mereka sadari. Perlahan-lahan mereka mulai tertarik dengan pesan-pesan dalam lakon wayang itu, pada saat itulah Sunan Kalijaga mulai mengenalkan Islam. Islam seperti ini adalah Islam dengan wajah damai. Dapat kita lihat hasilnya sekarang ini, Indonesia menjadi Negara dengan jumlah umat muslim yang terbanyak di dunia.
Berbeda dengan Islam yang baru-baru ini masuk ke Indonesia. Aliran Islam ini oleh Dr. Aksin Wijaya disebut Islam transnasionalis. Islam yang beraliran formalis yang bernuansa Timur Tengah, dan masuk ke Indonesia untuk kemudian dipaksakan pahamnya untuk diterapkan di Indonesia. Diantara Islam transnasionalis ini adalah Wahabi, Ikhwanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir. Ketiganya memiliki pemahaman tentang Islam yang tidak jauh berbeda. Mereka meyakini bahwa ideologi Islam adalah ideologi yang tertutup. Masuknya aliran-aliran ini ke Indonesia membawa misi untuk purifikasi Islam. Islam di Indonesia dianggap telah bercampur dengan budaya, sehingga perlu untuk ”disucikan”, mengembalikan ajaran Islam kepada Al Qur’an dan Hadits. Dengan niatan yang baik itu, sayangnya mereka kerap kali memakai wajah Islam yang keras dalam menyebarkan ideologinya. Kekerasan bukan dalam bentuk fisik, melainkan kekerasan dalam bentuk wacana, seperti pemberian label sesat pada umat Islam yang tidak sepaham dengan mereka. Kaum Islam tradisionalis yang diwakili oleh pesantren dan NU seringkali dinilai telah menyebarkan bid’ah, khurafat dan tahayyul karena mencampur adukkan ajaran Islam dengan budaya lokal.
Menilik kembali sejarah, dimana Islam mulai hadir ditengah kaum jahiliyah arab. Sebelum itu masyarakat disana sudah memiliki budaya untuk beribadah haji yang di wariskan oleh Nabi Ibrahim AS. Kemudian Islam hadir dan menjadikan budaya itu sebagai rukun Islam yang kelima. Sebelum itu pula, masyarakat arab telah terbiasa melakukan puasa. Dengan dasar itulah, kaum Islam tradisionalis mempunyai kaidah “memelihara tradisi lama yang masih baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”. Dari sini kita dapat memahami bahwa Islam adalah agama yang sangat luas dan damai, sehingga mampu mewarnai segala aspek kehidupan. Itulah Islam rohmatan lil ‘alamin.
Kembali kepada konsep Islam pribumi yang ditawarkan oleh Gus Dur, sebagai solusi kehidupan beragama yang lebih harmonis di nusantara ini. Konsep ini menolak penerapan Islam dalam bentuk sistem, seperti Negara Islam, Bank Islam, Politik Islam, Ekonomi Islam dsb,dst. Karena sistem tersebut tidak bisa menjunjung nilai pluralisme di Indonesia dalam prakteknya. Konsep Islam ala Gus Dur ini lebih mementingkan kehidupan yang damai, membela kaum lemah dan kaum yang ter-marjinal-kan. Kehidupan seperti ini dinilai Gus Dur lebih Islami ketimbang penerapan sistem syariat yang hanya mengedepankan formalisasi Islam. Islam pribumi tidak bisa disamakan dengan Islam Jawa atau Islam Kejawen. Islam pribumi memposisikan diri sebagai Islam yang mampu berdialog dengan budaya. Tetapi bukan berarti mencampur adukkan. Sebab apabila di campur antara agama dan budaya, maka unsur dari keduanya tidak lagi utuh dan memunculkan sebuah unsur baru. Dalam bukunya yang berjudul Islamku, Islammu, Islam kita, Gus Dur memberikan gambaran tentang konsep Islam Pribuminya. “Islamku, adalah paham sesuai dengan pengalaman spiritual(ku) yang tidak pernah dialami oleh(mu), dan aku tidak berhak untuk memaksakan islamku ini padamu”. “Islammu, adalah Islam yang kamu pahami sesuai dengan pengalaman spiritual(mu) yang tidak pernah aku alami, dan kamu tidak berhak untuk memaksakan pemahaman islam(mu) kepada(ku)”. Yang terakhir adalah “Islam kita”, inilah yang disebut oleh Gus Dur sebagai Islam pribumi, yaitu “Islam yang mampu berdialog dengan budaya lokal, Islam yang membela manusia, Islam yang bisa diterima oleh aku dan kamu”.
Islam pribumi merupakan perwujudan Islam dengan wajah damai. Untuk mengayomi masyarakat Indonesia, membela hak-hak asasi manusia. Islam yang ditawarkan agar seluruh warga Indonesia bisa merasakan atmosfer kedamaian yang dibawa Islam. Pilihan lainnya adalah Islam berwajah keras, yang menegakkan syariat tapi melupakan sifat rohmat Allah, menekan kebebasan beragama, dan mengusik kedamaian dalam bernegara. Mana yang akan anda pilih?
Wallahu a’lam
0 komentar:
Posting Komentar