Minggu, 13 Januari 2013

Di Suatu Pagi

Di suatu pagi, matahari mengintip malu dibalik mendung yang angkuh
Menggiring badai, menyapu sepi dan lenguh berahi mendadak sunyi
Rintik berkejaran menghujam bumi, menyisakan gigil yang melumpuhkan sendi
Aku mengutuk pagi yang menyita secangkir kopi, hingga asap seharusnya melahirkan wangi, tinggal lelap disela mimpi

Di suatu pagi, bening embun tak lagi suci, setelah kabut bergelut dengan bangkai tikus di ruang yang menghimpit
Seperti janji para penyair, menyuguhkan seni dalam bait puisi, sedang perut tak pernah berhenti menuntut nasi

Di suatu pagi, kepada sepi kutawarkan sebilah belati, biar henti segala perih, biar puas semua letih.

0 komentar:

Posting Komentar