Jumat, 07 Februari 2014

Apa Ini Kangen?

Aku tidak banyak menghabiskan rokok setiap hari. Bergadang pun tak lantas luar biasa. Setiap pagi aku sempatkan menghirup udara yang berbau matahari. Segar sekali. Tapi entah kenapa. bisa-bisanya dada ini sesak luar biasa.

Apa fotomu itu beracun?
Apa senyummu itu tak menyehatkan?
Apa ayumu menyakitkan?

Aku gak tahu. aku terlalu aneh.
Kangen

Minggu, 19 Januari 2014

Waktu

Aku berlari diantara angka-angka
Dikejar palang waktu
Detik...menit....detik...menit....detik.... Masa...
Aku memburumu!!!

Tapi, kamu tak berhenti
Sedang waktu tak mau kompromi
Kita semakin rapuh
Waktu menggilas angkuh

Masa membelah jarak
Membangun dinding yang dingin
Oh gadis.... beri aku arak
Biar sepi diusir angin

Makin kesana makin samar
Ada wajahmu tinggal temaram
Dipantul lilin yang nanar
Meringkuk sendiri menjaga kelam

Tiba-tiba aku bersin
Mematikan si lilin
Wajahmu hilang
Aku menangis riang

Waktu menyesatkanku
Ke ujung lain jalanmu
Dimana ibu menunggu
Aku tertatih termangu

Kepada jarum itu aku sudah baikan
Tak akan lagi saling menusuk
Biar detik berdetak pelan
Menit mengangguk-angguk



Surabaya, 170114

Jumat, 17 Januari 2014

Minggu, 05 Januari 2014

Rendra dan KH. Maemun Zubair tentang Cinta yang Langgeng

Rendra dan KH. Maemun Zubair tentang Cinta yang Langgeng
Jika Willy Surendra, menulis dalam puisinya "Dalam kalbu yang murni, usia cinta lebih panjang dari usia percintaan." Maka, Mbah Mun memberikan penjelasan dari sudut pandang yang lain tentang kelanggengan cinta.

Pernikahan adalah ibadah. Ibadah yang persyariatannya telah dimulai sejak manusia pertama, Nabiyullah Adam AS dengan Siti Hawa. Allah sendiri yang menjadi wali Siti Hawa dalam pernikahan pertama manusia ini. Setiap Nabi dan Rasul juga diperintah oleh Allah Ta'ala untuk menikah - bahkan, Nabi Isa 'alaihissalam kelak akan kembali turun ke bumi untuk melakukan pernikahan. Syariat pernikahan lalu disempurnakan melalui risalah yang dibawa Rasulullah, dan akan terus langgeng hingga di surga.

Pernikahan menjadi contoh suatu ibadah yang mengandung dua unsur sekaligus, unsur lahir hingga batin, sejak dunia hingga akhirat. Dengan demikian, berbeda dengan ibadah yang lain, legitimasi syariat pernikahan tidak mengenal tanggal kadaluarsa. Usianya bahkan lebih panjang daripada usia sejarah manusia di muka bumi.

Terdapat begitu banyak petunjuk Ilahiyah dan Nubuwiyah bagi kita untuk memahami bahwa islam meletakkan pernikahan sebagai sesuatu yang sakral dan sangat mulia. Dengan menikah seseorang berusaha untuk menyempurnakan separuh agamanya.

Al Qur'an memberi tuntunan bahwa pernikahan merupakan mitsaqan ghalidza, ikatan yang sangat kuat. Al Imam Al-Bulqini menyatakan dalam At-Tadrib, "Tak ada akad penghambaan atau ibadah yang membandingi akad pernikahan setelah akad keimanan."

Tiap-tiap pasangan semestinya berusaha agar perjodohan mereka langgeng. Baik laki-laki dan perempuan memiliki persamaan, yaitu dalam asal penciptaan sebagai manusia dan sama sebagai hamba Allah, serta sama dalam hak-hak kewargaan mereka dalam masyarakat dan negara. Persamaan-persamaan semacam ini mesti senantiasa diingat mengiringi kenyataan bahwa antara laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan, baik yang secara kodrati maupun akibat dari proses kebudayaan. Persamaan dan perbedaan itu mesti dikelola dengan sepenuh pemahaman dan kesadaran. Karena laki-laki dan perempuan sama maka tak perlu "dibeda-bedakan". Karena laki-laki dan perempuan juga memiliki perbedaan, sehingga tak perlu "disama-samakan". Membeda-bedakan dan menyama-nyamakan secara berlebihan biasanya lahir karena sikap terlalu menuntut.

Karena itulah, dalam pernikahan, saling memahami posisi masing-masing merupakan tugas bersama. Yang sangat perlu dipahami oleh suami-istri ialah senantiasa memelihara keseimbangan antara hak dan kewajiban masing-masing. Ini dilakukan dengan kebersamaan, dan rasa kasih sayang.

Sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang solehah, sebaik-baik harta adalah anak yang soleh-solehah pula. inilah kenikmatan akhirat yang kelak akan dialami keluarga mukmin. Mereka yang telah berkakek-nenek dan beranak-cucu pasti akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa indahnya manakala seluruh keluarga berkumpul, seperti ketika hari raya. Maka, kenikmatan serupa yang kelak dianugerahkan di surga oleh Allah Ta'ala dengan derajat yang berkali-kali lipat.

Boleh-boleh saja mengharap di surga akan ditemani bidadari atau bidadara. Tapi jika dibandingkan dengan kenikmatan  bersama keluarga besar, bidadari dan bidadara itu nikmatnya seperti snack saja.


Disarikan dari dawuh K.H. Maemun Zubair, melalui buku "Nasehat Pernikahan, 9 Guru"
Kado dari Mas Nabil Haroen dan Mbak Nina.

Senin, 30 Desember 2013

Selamat Hari Senin

Aku pernah dilahirkan sebagai manusia.


Sabtu paing tiga puluh desember seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan. Muncul dari rahim ibuku untuk melihat lucu-ironinya dunia. 24 tahun sudah, kalau tak salah hitungan. Tentu namyak lucunya. Lumrah banyak ironinya. Karena memang hidup seorang manusia.

Senin pon tiga puluh desember dua ribu tiga belas. Pagi yang biasa. Aku bangun dari kursi depan komputer. Mencari-cari hapeku, ada beberapa pesan singkat, mengirim doa dan selamat.  Lalu kepada kopi yang hampir basi, kutegakan lidahku menyesap pahitnya. Sebatang rokok murah yang kusulut, mengantarkan sampai diatas jamban. Seperti biasa. Mandi. Gosok gigi. Hampir lupa aku apa bedanya dengan hari-hari lain selama ini.

Yang membuatnya istimewa justru perhatian kawan, sedulur. Ada doa mereka yang kutangkup dalam aminku.

Naas, hari ulang tahun kali ini menjadi sangat berbeda, sangat istimewa. Karena doa yang begitu banyaknya, belum cukup menebus rindu. Gadis ayu itu membisu.

Ya sudah. Selamat ulang tahun diri. Semoga kau semakin tahu diri.



Senin Pon, 30-12-2013. Waktu matahari sepenggalahan.